JKN Kurang Optimal Karena Terbebani Penyakit Akibat Kerja

Mojokerto – prosentase dari angka penyakit akibat kerja lebih tinggi dari angka kecelakaan kerja. Kenapa permasalahan ini bisa tidak terekspos. Demikian disampaikan Ahmad Ansyori saat menjadi narasumber dalam seminar penyakit akibat kerja, Senin (30/4).

Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Ahmad Ansyori mengatakan, regulasi mengenai penyakit akibat kerja  sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970, namun pada kenyataannya sangat sedikit penyakit akibat kerja yang terdeteksi hingga hari ini.

“Kemungkinannya ada 2 hal, yaitu sosialisai kepada masyarkat yang sangat minim dan regulasi untuk penyampaian tidak terlalu baik atau bisa dibilang sosialisasi dan regulasi BPJSTK Jalan di tempat,” ujar Ansyori.

Dampaknya, lanjut ansyori JKN terlihat kurang optimal dalam melakukan tugas dan fungsinya karena JKN akan terbebani oleh pasien atas penyakit akibat kerja dan gangguan psikologis bagi pekerja yang mengalami penyakit akibat kerja.